Soya,
masih berdiri sampai saat ini,
soya kembali tersadar,
dan cerita it dimulai kembali,
hari it awan sangatlah pekat,
menyentuh puncak bukit dengan keangkuhan nya,
membuat soya tak tahu apakah saat it malam, siang, sore ataupun pagi,
sang waktu sudah tak lagi menampakan diri,
hanya keyakinan yg menjadi tongkat soya dan sewaktu2 menjadi lapuk dimakan keputus asaan,
soya berjalan ke atas bukit,
dengan maksud bertanya pada sang awan,
kenapa dia disana,
soya mendaki perlahan, menginjakan kaki pada benda2 yg entah apa,
soya sampai d ujung bukit,
dan sang awan telah menyelimutinya,
soya merasakan pijakan nya mulai hilang, dan tak dapat melihat apapun, hanya kegelapan yg sangat setia saat it,
soya bertanya,
"awan, kau sangatlah besar, warnamu tidak ku sukai saat ini, dan kau sangat kuat, berbagai hal dapat kau keluarkan dari dirimu, tapi. . . .
Kenapa kau disini,
kenapa kau mengganggu ku yang hanya sendiri disini?
Bukankah dirimu terlalu besar untk menghancurkan aku yang sendiri ini?"
soya bertanya dngan wajah datar nya,
sang awan hanya tertawa dengan gemuruhnya tapi tak membuat soya merubah ekspresinya,
soya pun berkata lagi
"kalau begitu,
maukah kau membawaku pergi dari tempat ini?
Biarlah aku melebur dg drimu,
jadikan aku teman mu"
soya tampak telah mengenakan kca mta bening nya dan meleleh bbrapa saat,
dan sang awan tetap hanya tertawa,
soya berkata lgi
"turunkan aku,
aku akan kembali ketempatku"
dengan wajah tertegun soya brjalan ke bawah lereng dan tawa sang awan menjadi-jadi,
d tengah lereng soya mengankat kepalanya,
membakar hatinya dan berpaling pada sang awan,
"tertawalah kau awan,
tapi kau tahu,
sahabatmu sebentar lagi akan datang,
bersiaplah berganti tempat dengan nya"
soya berkata dngan pasti dan sang awan merengut terkejut dan perlahan menangis, meraung keras, semakin keras, dan semakin keras,
hingga drinya hilang bersama air matanya,
air mata sang awan membasahi seluruh tanah,
soya diam d tempatnya dan tampak kca mta beningnya kembali muncul dan meleleh kembli,
Soya masuk ke dalam rumah nya,
dan brselang sedetik terdengar suara ketukan d pintu rmah nya,
sahabat sang awan telah datang,
meminta izin pada soya untk beristirahat d atas bukit,
sahabat sang awan muncul dengan senyum hangatnya,
soya mengantarnya ke tempatnya,
dan soya tersadar,
benda2 aneh yg ia temui bukit it ternyata adalah hadiah untk nya,
soya melihat ada pohon kecil dan pohon it berkata "aku sahabat, jika kau terus menyiramiku dan brsabar untk ku, kau akan melihatku besar, dan kau bisa brteduh di bwah ku saat kau btuh, kau juga bisa memetik buah ku, dan di setiap daun baru ku yang tumbuh, ada cerita untk mu"
soya tersenyum menyirami sahabat dengan air yg d simpan nya d dadanya,
lalo soya berpaling ke belakang dan melihat ada sebongkah batu,
dan batu it berkata " aku masa depan, aku memang keras, dan aku tempat kau berpijak, aku sangat besar, jika kau tidak suka dg bentuk ku yg sekarang, kau bisa mengukirku dengan kuku2mu yg kuat it, kau bentuk aku sesukamu "
soya lalu brjalan pasti ke arah batu dan duduk d atasnya,
dan melihat sekelilingnya dan soya berkata "aku tahu siapa kalian, kalian yang bersamaku sejak awal, kalian yg bernama keluarga"
soya tersenyum dan hendak mengenakan kca mta bning nya, soya mlihat ke arah belakang rumahnya yaitu sebuah perahu rusak dan soya brkata" aku tidak suka it, tapi it ada sejak awal, aku tidak bisa membuangnya"
lalu soya menengadah ke atas dan melihat burung2 indah terbang riang,
sahabat awan angkat bicara "it adalah mimpi soya,
mereka adalah bonus dariku untk mu, biarkan mereka terbang bebas, tapi mereka tidak akan pergi darimu, karna mereka tinggal d hatimu"
soya tersenyum pada shabat awan dan tanpa berkata apa2 lagi soya merebahkan dirinya d atas rumput d lereng bukit it,
"TERIMAKASIH SEMUA"
ucap soya dan memejamkan matanya . . . . .
The End . . .
masih berdiri sampai saat ini,
soya kembali tersadar,
dan cerita it dimulai kembali,
hari it awan sangatlah pekat,
menyentuh puncak bukit dengan keangkuhan nya,
membuat soya tak tahu apakah saat it malam, siang, sore ataupun pagi,
sang waktu sudah tak lagi menampakan diri,
hanya keyakinan yg menjadi tongkat soya dan sewaktu2 menjadi lapuk dimakan keputus asaan,
soya berjalan ke atas bukit,
dengan maksud bertanya pada sang awan,
kenapa dia disana,
soya mendaki perlahan, menginjakan kaki pada benda2 yg entah apa,
soya sampai d ujung bukit,
dan sang awan telah menyelimutinya,
soya merasakan pijakan nya mulai hilang, dan tak dapat melihat apapun, hanya kegelapan yg sangat setia saat it,
soya bertanya,
"awan, kau sangatlah besar, warnamu tidak ku sukai saat ini, dan kau sangat kuat, berbagai hal dapat kau keluarkan dari dirimu, tapi. . . .
Kenapa kau disini,
kenapa kau mengganggu ku yang hanya sendiri disini?
Bukankah dirimu terlalu besar untk menghancurkan aku yang sendiri ini?"
soya bertanya dngan wajah datar nya,
sang awan hanya tertawa dengan gemuruhnya tapi tak membuat soya merubah ekspresinya,
soya pun berkata lagi
"kalau begitu,
maukah kau membawaku pergi dari tempat ini?
Biarlah aku melebur dg drimu,
jadikan aku teman mu"
soya tampak telah mengenakan kca mta bening nya dan meleleh bbrapa saat,
dan sang awan tetap hanya tertawa,
soya berkata lgi
"turunkan aku,
aku akan kembali ketempatku"
dengan wajah tertegun soya brjalan ke bawah lereng dan tawa sang awan menjadi-jadi,
d tengah lereng soya mengankat kepalanya,
membakar hatinya dan berpaling pada sang awan,
"tertawalah kau awan,
tapi kau tahu,
sahabatmu sebentar lagi akan datang,
bersiaplah berganti tempat dengan nya"
soya berkata dngan pasti dan sang awan merengut terkejut dan perlahan menangis, meraung keras, semakin keras, dan semakin keras,
hingga drinya hilang bersama air matanya,
air mata sang awan membasahi seluruh tanah,
soya diam d tempatnya dan tampak kca mta beningnya kembali muncul dan meleleh kembli,
Soya masuk ke dalam rumah nya,
dan brselang sedetik terdengar suara ketukan d pintu rmah nya,
sahabat sang awan telah datang,
meminta izin pada soya untk beristirahat d atas bukit,
sahabat sang awan muncul dengan senyum hangatnya,
soya mengantarnya ke tempatnya,
dan soya tersadar,
benda2 aneh yg ia temui bukit it ternyata adalah hadiah untk nya,
soya melihat ada pohon kecil dan pohon it berkata "aku sahabat, jika kau terus menyiramiku dan brsabar untk ku, kau akan melihatku besar, dan kau bisa brteduh di bwah ku saat kau btuh, kau juga bisa memetik buah ku, dan di setiap daun baru ku yang tumbuh, ada cerita untk mu"
soya tersenyum menyirami sahabat dengan air yg d simpan nya d dadanya,
lalo soya berpaling ke belakang dan melihat ada sebongkah batu,
dan batu it berkata " aku masa depan, aku memang keras, dan aku tempat kau berpijak, aku sangat besar, jika kau tidak suka dg bentuk ku yg sekarang, kau bisa mengukirku dengan kuku2mu yg kuat it, kau bentuk aku sesukamu "
soya lalu brjalan pasti ke arah batu dan duduk d atasnya,
dan melihat sekelilingnya dan soya berkata "aku tahu siapa kalian, kalian yang bersamaku sejak awal, kalian yg bernama keluarga"
soya tersenyum dan hendak mengenakan kca mta bning nya, soya mlihat ke arah belakang rumahnya yaitu sebuah perahu rusak dan soya brkata" aku tidak suka it, tapi it ada sejak awal, aku tidak bisa membuangnya"
lalu soya menengadah ke atas dan melihat burung2 indah terbang riang,
sahabat awan angkat bicara "it adalah mimpi soya,
mereka adalah bonus dariku untk mu, biarkan mereka terbang bebas, tapi mereka tidak akan pergi darimu, karna mereka tinggal d hatimu"
soya tersenyum pada shabat awan dan tanpa berkata apa2 lagi soya merebahkan dirinya d atas rumput d lereng bukit it,
"TERIMAKASIH SEMUA"
ucap soya dan memejamkan matanya . . . . .
The End . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar